Profil Wilayah Blora

A. FISIK DASAR DAN LINGKUNGAN

  1. Wilayah blora berkarakteristik daratan yang terdiri dari dataran, perbukitan/pegunungan.
  2. Dialiri oleh sungai bengawan solo merupakan wilayah tengah dari aliran sungai, banyak limbah yang masuk ke sungai dan mencemari vegetasi di daerah ini.
  3. Aktifitas masyarakat yang paling menonjol adalah pertanian, pemanfaatan air sebagai kebutuhan sehari-hari, peternakan dan industri
  4. Kec cepu terendah mempunyai perumahan terendah (31 dpl) sehingga terjadi banjir karena luapan dari sungai bengawan solo.
  5. Keberadaan tanah meditarian yang mencapai 39% luas wilayah menyebabkan sebagian wilayah blora adalah wilayah yang rawan kekeringan. Itulah sebabnya wilayah blora juga dikenal sebagai daerah sulit air.
  6. Kandungan dalam tanah di blok cepu di temukan cadangan 250 juta barel minyak bumi yang pada tahun 1899 sudah dilakukan eksploitasi.
  7. Terbesar penggunaan awalnya adalah sebagai hutan yang meliputi hutan Negara dan hutan rakyat, yakni 49.66%

B. PEREKONOMIAN WILAYAH

  1. PRDB per kapita blora pada tahun 2011 hanya sebesar 5,9 juta memduduki peringkat 33 dari 35 kab/kota di jawa tengah. PDRB per kapita tersebut jauh lebih rendah dari PRDB per kapita rata-rata rovinsi jateng th 2011 sebesar 15,4 juta.
  2. Indikasi permasalahan konflik lahan terjadi manakala lokasi sumur minyak berada pada kawasan hutan produksi milik perhutani
  3. Potensi sumber daya alam berupa deposil minyak bumi di cepu dan sekitarnya merupakan salah satu asset tidak saja local, namun regional bahkan dari beberapa penelitian pada kawasan ini menunjukan kandungan deposil minyak bumi dalam jumlah yang cukup besar, sehingga merupakan asset nasional yang hukumnya dapat mendongkrak perekonomian local dan regional.
  4. Kekuatan ekonominya lebih banyak ditopang oleh sector pertanian seluas 40% wilayah (72.502,33 ha) padahal 64.44% dari awal persawahan itu berupa sawah tadah hujan yang siklus pertaniannya mengandalkan musim.
  5. Jagung merupakan komoditas yang produksinya sangat besar di kab blora mencapai sebesar 329.536 ton pada tahun 2009 dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 10.10% dalam kurun waktu 2005-2009.
  6. Produk cabe merah kriting di kab blora mencapai 21.121 kwintal (pada tahun 2009).
  7. Jambu mete di kab blora tersebar di kec jepon, bogorejo, kunduran, blora dan tunjungan, dengan jumlah produksi sebanyak 387 ton pada tahun 2009.
  8. Kab blora juga telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan sentra produksi sapi potong di jateng.
  9. Produsen rokok kretek yang dipasarkan sebagian besar ke luar daerah yaitu ke Kediri. Potensi rokok kretek ini didukung oleh produksi tenbakau sebanyak 171 ton pada tahun 2009, bahkan pada tahun 2008 mencapai 4.508 ton.
  10. Berdirinya gedung gabah, system resi gudang mulai dilaksanakan di blora. Ini terjadi setelah berdirinya gudang resi di desa sidoarjo kec kedungtuban.
  11. Pendirian pabrik gula terpadu di blora yang berada di desa tinapan todanan dengan GMM (sebagai investor dan penyedia lahan tebu) Guang Dong Akibusiness 9GDA) group corporation – BUMN China yang menjadi mitranya akan bertugas sebagai kontraktor, penyedia bibit tebu dan perbungkelan, niilai investasi sebesar 1.4 trilyun dan diperkirakan menyerap tenaga kerja 1.500 orang.
  12. Rencana pabrik pakan ternak, sebagai produksi jagung terbesar di kec jati banyak dilirik oleh investor.
  13. Industri makan kuliner diantaranya makanan ringan yang paling banyak anatra lain : eggroll, ceriping ketela, ceriping pisang, keripik tempe, sate, soto keletuk yaitu soto kuah yang dilengkapi dengan keletuk (makanan ringan yang terbuat dari gemblong), serta lonthong tahu
  14. Jenis produk handycraff dan mebeleir yang menjadi unggulan kab blora diantaranya kayu gambol jati, mebe/furniture kayu jati, mebel dari bongkaran bangunan dan barang kerajinan kayu dengan pusat produksinya di kec cepu.
  15. Objek wisata “wana wisata tour” merupakan objek wisata hutan dan wisata kereta api kuno pengangkutan kayu hutan (lori).

C. SOSIAL BUDAYA

  1. Tingkat kepadatan tertinggi terletak di kecamatan cepu sebesar 1.572 juta per km2.
  2. Angka kemiskinan di kec blora mencapai 122.088 juata atau 14.68% (peringkat 29 dari 35 kab/kota di jateng).
  3. Kawasan pertamina cepu ini telah ada sejak jaman penjajahan belanda berkembang menjadi “company town” yang mnejadi orientasi pertumbuhan dan menjadi kawasan penyedia kesempatan kerja yang amat potensial bagi kawasan sekitarnya maupun prov jateng.
  4. Masih terjaganya komunitas samin di kab blora sebagai asset dari budaya lokal.
Back to Top